î Osteoporosis
Osteoporosis, yang berarti “tulang keropos atau tulang
yang berlubang,” merupakan kelainan tulang umum yang ditandai oleh penurunan
pembentukan osteoblastik matriks disertai dengan peningkatan resorpsi
osteokiastik tulang dan sebagai akibatnya, penurunan jumlah total tulang dalam
tulang rangka (osteopenia, yang berarti “terlalu sedikit tulang’). Osteoporosis
mempermudah timbulnya fraktur traumatik kolumna vertebra, femur atas, radius
distal, humerus proksimal, rami pubis dan kosta sehingga biaya sosial dan
ekonomi osteoporosis besar seka.
Meskipun penurunan deposisi tulang telah lama dianggap merupakan
faktor utama penyebab gangguan keseimbangan yang menimbulkan osteoporosis,
namun data baru-baru ini memperlihatkan bahwa peningkatan resorpsi tulang
mungkin merupakan faktor yang lebih penting. Percobaan pada tahun-tahun
sekarang ini memberi kesan bahwa terdapat beberapa bentuk penatalaksanaan yang
efektif untuk penderita osteoporosis.
î Jenis-Jenis Osteoporosis
Terdapat beberapa
jenis osteoporosis, yaitu:
1) Osteoporosis
postmenopause (tipe I):
Bentuk
yang paling sering ditemukan pada wanita kulit putih dan Asia. Bentuk osteoporosis
ini disebabkan oleh percepatan resorpsi tulang yang berlebihan dan lama setelah
penurunan sekresi estrogen di masa menopause.
2) Osteoporosis
involutional (tipe II):
Terjadi
pada kedua jenis kelamin yang berusia di atas 75 tahun. Tipe ini diakibatkan oleh
ketidakseimbangan yang samar dan lama antara kecepatan resorpsi tulang dengan
kecepatan pembentukan tulang.
3) Osteoporosis
idiopatik:
Tipe
osteoporosis primer jarang yang terjadi pada wanita premenopause dan pada
laki-laki yang berusia di bawah 75 tahun. Tipe ini tidak berkaitan dengan
penyebab sekunder atau faktor risiko yang mempermudah timbulnya penurunan
densitas tulang. Penyebabnya tidak diketahui.
4) Osteoporosis
juvenil:
Bentuk osteoporosis yang
terjadi pada anak-anak prepubertas. Bentuk ini jarang dijumpai.
5) Osteoporosis
sekunder:
Penurunan
densitas tulang yang cukup berat untuk menyebabkan fraktur atraumatik akibat
faktor ekstrinsik seperti kelebihan kortikosteroid, artritis reumatoid, kelainan
hati/ginjal kronis, sindrom malabsorbsi, mastositosis sistemik,
hiperparatiroidisme, hipertiroidisme, varian status hipogonade, dan lain-lain.
A. Kalsium
Sebagai Mineral Makro
Kalsium merupakan mineral yang paling
banyak terdapat di dalam tubuh, yaitu 1,5-2% dari berat badan orang dewasa. Di
dalam tubuh manusia terdapat kurang lebih 1 kg kalsium (Granner, 2003).
Kalsium merupakan mineral makro yang terdapat paling
banyak di dalam tubuh yaitu 1,5 – 2 % dari berat badan orang dewasa, 99 %
berada didalam jaringan keras yaitu tulang dan gigi.
(Almatsier, 2009).
Dari jumlah ini, 99% berada di dalam
jaringan keras, yaitu tulang dan gigi terutama dalam bentuk hidroksiapatit {(3Ca3(PO4)2.Ca(OH)2}.
Kalsium tulang berada dalam keadaan seimbang dengan kalsium plasma pada
konsenterasi kurang lebih 2,25-2,60 mmol/l (9-10,4 mg/100ml). Densitas tulang
berbeda menurut umur, meningkat pada bagian pertama kehidupan dan menurun
secara berangsur setelah dewasa. Selebihnya kalsium tersebar luas didalam
tubuh. Di dalam cairan ekstraselular dan intraselular kalsium memegang peranan
penting dalam mengatur fungsi sel, seperti untuk transmisi saraf, kontraksi
otot, penggumpalan darah dan menjaga permebilitas membran sel. Kalsium juga
mengatur pekerjaan hormon-hormon dan faktor pertumbuhan (Almatsier, 2004).
Mineral makro ini mempunyai peranan penting dalam pembentukan
tulang dan gigi serta mencegah penyakit osteoporosis. Kebutuhan terbesar
mineral ini pada waktu pertumbuhan, tetapi kebutuhannya masih diteruskan
meskipun sudah mencapai usia dewasa. (Winarno, 1997).
Osteoporosis adalah suatu penyakit dimana kondisi tulang
menjadi rapuh dan mudah retak atau patah karena kekurangan kalsium. Penyakit
ini umumnya lebih banyak diderita kaum wanita karena itu jumlah wanita yang
terserang osteoporosis lebih banyak daripada pria, terutama mereka yang
memasuki masa menopause atau berusia diatas 40 tahun. (Anonim, 2009).
Angka kecukupan rata-rata sehari untuk kalsium bagi orang
Indonesia ditetapkan oleh Widyakarya Pangan dan Gizi LIPI (1998) yaitu bayi
300-400 mg, anak-anak 500 mg, remaja 600-700 mg, dewasa 500-800 mg , ibu hamil
dan menyusui > 400 mg (Almatsier, 2009).
Kalsium dapat diperoleh dari susu, kacang-kacangan dan
hasil olahannya, telur, ikan yang dimakan dengan tulang, sayuran hijau dan buah.
(Almatsier, 2009).
B. Absoprsi
dan Eksresi
Dalam keadaan normal sebanyak 30-50%
kalsium yang dikonsumsi diabsorpsi di tubuh. Kemampuan absorpsi lebih tinggi
pada masa pertumbuhan, dan menurun pada proses menua. Kemampuan absorpsi pada
laki-laki lebih tinggi daripada perempuan pada semua golongan usia (Almatsier,
2004).
Absorpsi kalsium terutama terjadi
dibagian atas usus halus yaitu duodenum. Dalam keadaan normal, dari sekitar
1000 mg Ca++ yang rata-rata dikonsumsi perhari, hanya sekitar dua pertiga yang
diserap di usus halus dan sisanya keluar melalui feses (Sherwood, 2001).
Kalsium membutuhkan pH 6 agar dapat
berada dalam keadaan terlarut. Absorpsi kalsium terutama dilakukan secara aktif
dengan menggunakan
alat ukur protein-pengikat kalsium. Absorpsi pasif terjadi pada permukaan
saluran cerna. Banyak faktor mempengaruhi absorpsi kalsium. Kalsium hanya bisa
diabsorpsi bila terdapat dalam bentuk larut-air dan tidak mengendap karena
unsur makanan lain, seperti oksalat.
î Faktor-faktor yang Meningkatkan Absorpsi Kalsium
Semakin tinggi kebutuhan
dan semakin rendah persediaan kalsium dalam tubuh semakin efesien absorpsi
kalsium. Peningkatan kebutuhan terjadi pada pertumbuhan, kehamilan, menyusui,
defesiensi kalsium dan tingkat aktivitas fisik yang meningkatkan densitas
tulang. Jumlah kalsium yang dikonsumsi mempengaruhi absorpsi kalsium.
Penyerapan akan meningkat apabila kalsium yang dikonsumsi menurun (Almatsier,
2004).
Vitamin D dalam
bentuk aktif 1,25(OH)D3 merangsang absorpsi kalsium melalui langkah-langkah kompleks.
Vitamin D meningkatkan absorpsi pada mukosa usus dengan cara merangsang
produksi protein pengikat kalsium. Absorpsi kalsium paling baik terjadi dalam
keadaan asam. Asam klorida yang dikeluarkan lambung membantu absorpsi kalsium
dengan cara menurunkan pH di bagian atas duodenum. Asam amino tertentu
meningkatkan pH salura cerna, dengan demikian membantu absorpsi (Almatsier,
2004).
Aktivitas fisik
berpengaruh baik terhadap absorpsi kalsium. Laktosa meningkatkan absorpsi bila
tersedia cukup enzim laktase. Sebaliknya, bila terdapat defesiensi laktase,
laktosa mencegah absorpsi kalsium. Lemak meningkatkan waktu transit makanan
melalui saluran cerna, dengan demikian memberi waktu lebih banyak untuk
absorpsi kalsium. Absorpsi kalsium lebih baik bila dikonsumsi bersamaan dengan
makanan (Almatsier, 2004).
î Faktor-faktor yang menghambat absorpsi kalsium
Kekurangan vitamin D
dalam bentuk aktif menghambat absorpsi kalsium. Asam oksalat yang terdapat
dalam bayam, sayuran lain dan kakao membentuk garam kalsium oksalat yang tidak
larut, sehingga menghambat absorpsi kalsium. Asam fitat, ikatan yang mengandung
fosfor yag terutama terdapat didalam sekam serealia, membentuk kalsium fosfat
yang juga tidak dapat larut sehingga tidak dapat diabsorpsi (Almatsier, 2004).
Selain itu, kosumsi
tinggi serat dapat menurunkan absorpsi kalsium, diduga karena serat menurunkan waktu
transit makanan dalam saluran cerna sehingga mengurangi kesempatan untuk
absorpsi (Guthrie&Picciano, 1995; Krummel, 1996).
Rasio konsumsi
kalsium fosfor agar dapat dimanfatkan secara optimal dianjurkan adalah 1:1
dalam makanan, konsumsi fosfor yang lebih tinggi dapat mengahambat absorpsi
kalsium karena fosfor dalam suasana basa membentuk kalsium fosfat yang tidak
larut air (Khomsan, 1996).
Faktor lain yang
dapat menghambat absorpsi kalsium adalah ketidakstabilan emosional yang dapat
mempengaruh efesiensi absorpsi kalsum, seperti stres, tekanan, dan kecemasan.
Kurangnya latihan fisik atau olahraga seperti jarang berjalan atau pada orang
yang kurang bergerak karena sakit atau terbaring dalam waktu lama dapat
menyebabkan kehilangan kalsium tulang 0,5 % setiap bulan dan mengurangi
kemampuan untuk menggantinya (Guthrie&Picciano, 1995).
î Fungsi dan Peranan Kalsium
Kalsium mempunyai
peran penting didalam tubuh, yaitu dalam pembentukan tulang dan gigi; dalam
pengaturan fungsi sel pada cairan ekstraselular dan intraselular, seperti untuk
transmisi saraf, kontraksi otot, penggumpalan darah, dan menjaga permebilitas
membran sel. Selain itu, kalsium juga mengatur pekerjaan hormon-hormon dan
faktor pertumbuhan (FKM UI, 2007).
a. Pembentukan tulang.
Yaitu:
Proses pembentukan
tulang dimulai pada awal perkembangan janin, dengan membentuk matriks yang
kuat, tetapi masih lunak dan lentur yang merupakan cikal bakal tulang tubuh.
Matriks yag merupakan sepertiga bagian dari tulang terdiri atas serabut yang
terbuat dari kolagen yang diselubungi
oleh bahan gelatin. Segera setelah lahir matriks mulai menjadi kuat dan
mengeras melalui proses kalsifikasi, yaitu terbentuknya kristal mineral yang
mengandung senyawa kalsium. Kristal ini terdiri atas kalsium fosfat atau
kombiasi kalsium fosfat dan kalsium hidroksida dinamakan hidroksiapatit
{(3Ca3(PO4)2.Ca(OH)2}. Karena kalsium merupakan mieral yang utama dalam ikatan
ini, keduanya harus berada dalam jumlah yang cukup di dalam cairan yang
mengelilingi matriks tulang. Batang tulang yang merupakan bagian keras matriks
mengandung kalsium, fosfat, magnesium, seng, natrium bikarbonat, dan fluor, selain
hidroksipatit (Almatsier, 2004).
Selama kehidupan,
tulang selalu mengalami perubahan baik dalam bentuk maupun kepadatan, sesuai
dengan usia dan perubahan berat badan. Menurut Krummel (1996), faktor yang
mempengaruhi kalsifikasi/penulangan adalah genetik (untuk menentukan massa
tulang); hormon seks dan aktivitas fisik (untuk mempengaruhi metabolisme
tulang); dan berat badan berbanding terbalik dengan risiko patah tulang.
b. Pembentukan gigi
Mineral yang membenuk
dentin dan email yang merupakan bagian tengah dan luar dari gigi adalah minerla
yang sama dengan pembentuk tulang, yaitu hidroksiapatit. Namun, kristal dalam
gigi lebih padat dan kadar airnya lebih rendah. Protein dalam email gigi adalah
keratin, sedangkan dalam dentin adalah kolagen. Pertukaran anatra kalsium gigi
dan kalsium tubuh berlangsung dengan lambat dan terbatas pada kalsium yang
terdapat dalam lapisan dentin. Sedikit pertukaran mungkin juga terjadi diantara
saliva dan email gigi. Kekuranag kalsium selama masa pembentukan gigi dapat
menyebabkan meningkatnya kerentanan terhadap kerusakan gigi (Almatsier, 2004).
c.
Pertumbuhan
Kalsium secara nyata
diperlukan untuk pertumbuhan kerena bagian penting dalam pembentukan tulang dan
gigi, juga dibutuhkan dalam jumlah yang lebih kecil untuk mendukung fungsi sel
dalam tubuh. Penelitian di jepang menyebutkan bahwa orang yang diet rendah
kalsium lebih pendek dibandingkan dengan diet kalsium yang adekuat. Dalam masa
pertumbuhan ukuran tulang, kandungan kalsum dan kebutuhan kalsium meningkat.
Setelah perumbuhan terhenti, kemungkinan fase dimana penambahan jumlah tulang
dan kalsium (peak bone mass) bersama akan tetap bertambah sampai usia
sekitar 30 tahun. Setelah peak bone mass tercapai, jumlah tulang akan menurun,
yang akan menyebabkan ketidakseimbangan antara reabsorpsi dan pembentukan
tulang. Konsumsi kalsium adalah salah satu mekanisme yang dapat membantu
pertumbuhan tulang dan mencegah kehilangan tulang (bone loss), karena
tubuh biasanya mencapai peak bone mass antara umur 25-30-an, adalah
waktu yang ideal untuk melakukan pencegahan selama tahun-tahun diperguruan
tinggi (Tucker, Snelling, dkk, 2002).
d. Pembekuan darah
Bila terjadi luka,
ion kalsium dalam darah merangsang pembebasan fosfolipida tromboplastin dari
platelet darah yang terluka. Tromboplastin ini mengatalisis perubahan
protrombin bagian darah normal, menjadi trombin kemudian membantu perubahan
fibrinogen, bagian lan dari darah, menjadi fibrin yang merupakan gumpalan darah
(Sherwood, 2001).
e. Katalisator
reaksi-reaksi biologik
Kalsium berfungsi
sebagai katalisator berbagai reaksi biologik, seperti absorpsi vitamin B12,
tindakan enzim pemecah lemak, lipase pankreas, ekskresi insulin oleh pankreas,
pembentukan dan pemecahan asetilkolin. Kalsium yang diperlukan untuk
mengkatalisis reaksi-reaksi ini diambil dari pesediaan kalsium dalam tubuh
(Almatsier, 2004).
f. Kontraksi otot
Pada waktu otot
berkontraksi kalsium berperan dalam interaksi protein di dalam otot, yaitu
aktin dan miosin. Bila darah kalsium kurang dari normal, otot tidak bisa
mengendur sesudah kontraksi. Tubuh akan kaku dan dapat menimbulkan kejang.
Beberapa fungsi kalsium lain adalah meningkatkan fungsi transpor membra sel,
kemungkinan dengan bertindak sebagai stabilisator membran, dan transmisi ion
melalui membran organel sel (Almatsier, 2004).
g. Pengaruh
hormon-hormon lain terhadap kerangka tubuh
Kerangka tubuh
dipengaruhi oleh hormon pertumbuhan, hormon seks, tiroksin, dan kortikosteroid.
Kekurangan estrogen (hormon seks pada perempuan) menyebabkan kehilangan bahan
tulang atau osteoporosis. Tampaknya hal ini menjelaskan mengapa wanita
menopause rentan terhadap osteoporosis, hal in terjadi karena penurunan
estrogen secara drastis pada masa tersebut. Kebanyakan hormon tiroksin juga
meyebabkan percepatan penggantian kalsium dengan resorpsi yang lebih cepat yang
pada akhirnya menyebabkan kalsium darah meningkat dan terjadi osteoporosis
(Almatsier, 2004).
î Kalsium dan Tulang
Kalsium tulang
tersebar diantara pool (cadangan) yang relatif tidak berubah/stabil dan
tidak dapat digunakan untuk pengaturan jangka pendek keseimbangan kalsium, dan pool
yang cepat dapat berubah yang terlibat dalam kegiatan metabolisme kalsium
(kurang lebih 1% kalsium tulang). Komponen yang dapat berubah ini dapat
dianggap sebagai cadangan yang menumpuk bila makanan mengnadung cukup kalsium.
Cadangan kalsium ini terutama disimpan pada bagian ujung tulang panjang dalam
bentuk kristal yang dinamakan trabekula dan dapat dimobilisasi untuk
memenuhi kebutuhan yang meningkat pada masa pertumbuhan, kehamilan, dan
menyusui. Kekurangan konsumsi kalsium untuk jangka panjang menyebabkan struktur
tulang yang tidak sempurna (WHO, 2003).
Heaney (2000) dalam Journal
of the American College of Nutrition mengatakan asupan kalsium berkaitan
dengan status tulang. Selama 25 tahun ada paling sedikit 139 laporan
terpublikasi di Inggris yang memaparkan hubungan antara asupan kalsium dan
status tulang (massa tulang, keseimbangan kalsium, kehilangan tulang atau
fraktur). Dari 86 studi observasional, 69 pada dewasa, 17 anak-anak, ditemukan
64 hasil studi mengenai hubungan positif bermakna antara asupan kalsium dan
massa tulang, kehilangan tulang atau fraktur.
Tulang senantiasa
berada dalam keadaan dibentuk dan direabsorpsi. Aspek mana yang domina
bergantung pada umur dan keadaan faal tubuh. Pada proses menua proses
reabsorpsi dominan sehingga tulang secara berangsur menyusut dan menjadi rapuh.
Penyusutan tulang pada umumnya terjadi setelah usia 50 tahun, baik pada
laki-laki maupun perempuan tetapi pada perempuan dengan kecepatan lebih tinggi.
Seperti telah dijelaskan, kalsium didalam tulang terdapat dalam bentuk
hidroksiapatit. Disamping itu terdapat ion-ion lain termasuk fluor, magnesium,
seng, dan natrium. Melalui matriks dan di antara struktur kristal terdapat
pembuluh darah dan limfe, saraf dan sumsum tulang. Melalui pembuluh darah ini
ion-ion mineral berdifusi ke dalam cairan ekstraselular, mengelilingi kristal
dan memungkinkan pengendapan mineral baru atau penyerapan kembali mineral
tulang. Karena banyak kalsium yang hilang didalam tulang pada proses resorpsi,
konsumsi kalsium yang adekuat dianjurkan sebelum penuaan terjadi (Almatsier,
2004).
FDA (1998) dalam Annual
Edition Nutrition 2000/2001 (2000) menyatakan konsumsi kalsium yang adekuat
selama hidup dapat membantu mempertahankan kesehatan tulang melalui peningkatan
sebanyak mungkin secara genetik jumlah tulang yang dibentuk pada masa remaja
dan tahap awal dewasa serta dapat membantu memperlambat kecepatan kehilangan
tulang yang terjadi pada kehidupan selanjutnya. Kalsium dalam tulang merupakan sumber kalsium
darah. Walaupun makanan kurang mengandung kalsium, konsentrasinya dalam darah
akan tetap normal (Almatsier, 2004).
î Angka Kecukupan Kalsium yang
Dianjurkan
RDA adalah standar di
Amerika yang berisi kebutuhan rata-rata zat gizi per hari yang dianjurkan
sehingga suatu masyarakat dapat hidup sehat. Di Indonesia RDA dikenal dengan
Angka Kecukupan Gizi yang ditetapkan melalui Kongres Widya Karya Nasional
Pangan dan Gizi (WKNPG) (FKM UI, 2007).
AKG atau RDA adalah banyaknya
masing-masing zat gizi esensial yang harus dipenuhi dari makanan mencakup
hampir semua orang sehat untuk mencegah
defisiensi zat gizi. AKG dipengaruhi oleh umur, jenis kelamin, aktivitas, berat
badan, tinggi badan, genetika, dan keadaan fisiologis, seperti hamil atau
menyusui (Fikawati, R., Syafiq, 2007).
Untuk pertama kalinya sejak RDA
dipublikaskan tahun 1989, pemerintah federal di Amerika akhirnya meningkatkan
rekomendasi asupan kalsium harian (NAS, 1997). Hal ini berdasarkan temuan riset
terbaru yang dilakukan The Food and Nutrition Board di National Academy
of Sciences yang menyatakan bahwa peningkatan rekomendasi asupan kalsium dapat
mencegah perburukan tulang. Rekomendasi terbaru tersebut dinamakan Dietary
Reference Intakes (DRI) yang merupakan perluasan dari cakupan dan aplikasi
RDA (Soliah, 2000). Di Indonesia WKNPG VIII telah diselenggarakan pada tahun
2003 dan hasilnya (AKG) telah dipublikasikan tahun 2004. Berikut ini akan
disajikan tabel yang memuat asupan kalsium yang direkomendasikan antara
masyarakat di Indonesia dan Amerika.
Tabel.1 Dietary
Reference Intakes for Calcium
|
LIFE STAGE GROUP
|
CALCIUM MG/DAY ADEQUATE INTAKE
|
|
|
Infants
•
0-6 bulan
•
6-12 bulan
|
Infants
•
210
•
270
|
|
|
Anak-anak
•
1-3 tahun
•
4-8 tahun
|
Anak-anak
•
5000
•
800
|
|
|
Laki-laki/Perempuan
•
9-18 tahun
•
19-50 tahun
•
>51 tahun
|
Laki-laki/Perempuan
•
1300
•
1000
•
1200
|
|
Tabel 2. Angka Kecukupan Gizi Kalsium 2004 bagi orang Indonesia
|
No
|
Kelompok Umur
|
Kalsium (mg/hari)
|
|
1.
|
Anak
•
0-6 bulan
•
7-12 bulan
•
1-3 tahun
•
4-6 tahun
•
7-9 tahun
|
Anak
•
200
•
400
•
500
•
500
•
600
|
|
2.
|
Laki-laki
•
10-18 tahun
•
19-29 tahun
•
30-49 tahun
•
50-64 tahun
•
>60 tahun
|
Laki-laki
•
1000
•
800
•
800
•
800
•
800
|
|
3.
|
Wanita
•
10-18 tahun
•
19-29 tahun
•
30-49 tahun
•
50-64 tahun
•
>60 tahun
|
Wanita
•
1000
•
800
•
800
•
800
•
800
|
|
4.
|
Wanita
hamil (tambahan)
•
Trimester 1
•
Trimester 2
•
Trimester 3
|
Wanita
hamil (tambahan)
•
+ 150
•
+ 150
•
+ 150
|
|
5.
|
Wanita
menyusui (tambahan)
•
6 bulan pertama
•
6 bulan kedua
|
Wanita
menyusui (tambahan)
•
+ 150
• +
150
|
Jika
mengacu pada WKNPG VIII, AKG indonesia untuk anjuran kalsium masih rendah
sekali dibandingkan RDA yang dipakai di Amerika. Bahkan di AS, telah dilakukan
kenaikan AKG kalsium khususnya dengan memperhatikan kaitan antara konsumsi
kalsium saat remaja dengan risiko fraktur osteoporotik di kemudian hari.
Penyusunan AKG kalsium di indonesia seharusnya mempertimbangkan kebutuhan
kalsium untuk hari tua, yaitu pengurangan risiko fraktur tulang akibat
osteoporosis. (Heaney, 2003).
î Sumber Kalsium
Diet
harus didasarkan pada berbagai macam makanan, baik unuk memenuhi kebutuhan yang
sudah diketahui maupun untuk menyediakan nutrien lain yang kebutuhannya pada
manusia masih belum bisa ditentukan secara tepat. Sumber utama kalsium dalah
susu dan produk olahannya, seperti keju, yoghurt, kefir, es krim, serta ikan
terutama ikan duri halus. Enam studi Randomized Controlled Trial pada orang
dewasa dan anak-anak yang menggunakan produk olahan susu sebagai sumber utama
kalsium, seluruhnya menunjukan efek positif bermakna yang memiliki paling
sedikit efek yang sama kuat dengan suplemen kalsium. Hal ini membuktikan bahwa
susu dan produk olahannya adalah sumber nutrient yang baik yang dibutuhkan
untuk perkembangan dan mempertahankan tulang (Heaney, 2000). Serealia, kacang-kacangan dan hasil
kacang-kacangan, tahu dan tempe, dan sayuran hijau merupakan sumber kalsium
yang baik juga, tetapi bahan makanan ini banyak mengandung zat yang menghambat
penyerapa kalsium seperti serat, fitat, dan oksalat. Susu nonfat
merupakan sumber terbaik kalsium, karena ketersediaan biologiknya yang tinggi.
Kebutuhan kalsium akan terpenuhi bila kita makan makanan yang seimbang setiap
hari (Almatsier, 2004).
î Akibat Kekurangan Kalsium
Kekurangan kalsium pada masa
pertumbuhan dapat menyebabkan ganggguan pertumbuhan. Tulang kurang kuat, mudah
bengkok dan rapuh. Semua orang dewasa, terutama setelah usia 50 tahun,
kehilangan kalsium dari tulangnnya. Tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Hal
ini dinamakan osteoporosis yang dapat dipercepat oleh keadaan stress
sehari-hari. Osteoporosis lebih banyak terjadi pada wanita daripada laki-laki
dan lebih banyak pada orang kulit putih daripada kulit berwarna. Disamping itu
osteoporosis lebih banyak terjadi pada perokok dan peminum alcohol (Almatsier,
2004).
FDA (1998) menegaskan bahwa asupan
kalsium yang rendah adalah salah satu faktor risiko terjadinya osteoporosis,
suatu kondisi dari rendahnya massa tulang atau kepadatannya. Osteoporosis
terjadi pada 25% wanita pascamenopause, nampaknya defisiensi estrogen pada masa
itu ikut berperan sehingga insidensnya pada wanita lebih tinggi (Sherwood,
2001; Hillegas, 2005). Karena terapi osteoporosis sulit dan sering kurang
memuaskan, pencegahan sejauh ini merupakan cara terbaik untuk menangani masalah
kesehatan ini. ). Pencegahan osteoporosis dapat dimulai ketika tulang seseorang
dibentuk. Pembentukan tulang yang kuat sebelum menopause melalui makanan yang
kaya kalsium dan olahraga yang adekuat tampaknya merupakan tindakan yang
terbaik. Adanya cadangan tulang pada usia pertengahan dapat memperlambat
munculnya manifestasi klinis osteoporosis pada usia selanjutnya. Akivitas fisik
yang berlanjut seumur hidup tampaknya dapat menunda atau mencegah pengeroposan
tulang, bahkan pada orang berusia lanjut (Sherwood, 2001). Kekurangan kalsium
dapat menyebabkan osteomalasia, yang dinamakan juga riketsia pada orang dewasa
dan biasanya terjadi karena kekurangan vitamin D dan ketidakseimbangan konsumsi
kalsium terhadap fosfor. Mineralisasi matriks tulang terganggu, sehingga
kandungan kalsium di dalam tulang menurun (Almatsier, 2004).
Akibat Kelebihan Kalsium
Konsumsi
kalsium hendaknya tidak melebihi 2500 mg sehari. Kelebihan kalsium dapat
menimbulkan batu ginjal atau gangguan ginjal. Disamping itu, dapat menyebabkan
konstipasi (susah buang air besar). Kelebihan kalsium bisa terjadi bila
menggunakan suplemen kalsium berupa tablet atau bentuk lain (Almatsier, 2004).
î Fosfor mempunyai berbagai fungsi dalam
tubuh.
a. Klasifikasi tulang dan gigi.
Klasifikasi tulang dan gigi diawali dengan
pengendapan fosfor pada matriks tulang. Kekurangan fosfor menyebabkan
peningkatan enzim fosfatase yang diperlukan untuk melepas fosfor dari jaringan
tubuh ke dalam darah agar diperoleh perbandingan kalsium terhadap fosfor yang
sesuai untuk pertumbuhan tulang.
b. Mengatur pengalihan energi.
Melalui proses fosforilasi fosfor
mengaktifkan berbagai enzim dan vitamin B dalam pengalihan energi pada
metabolisme karbohidrat, lemak dan protein. Bila stu gugus fosfor ditambahkan
pada ADP (Adenosin Difosfat) maka terbentuk ATP (Adenosin Trifosfat) yang
menyimpan energi dalam ikatannya. Bila energi diperlukan, ATP diubah kembali
menjadi ADP. Energi yang mengikat fosfor pada ADP dilepas untuk keperluan
berbagi reaksi di dalam tubuh.
Absorpi
dan transportasi zat gizi.
Dalam
bentuk fosfat, fosfor berperan sebagai alat angkut untuk membawa zat-zat gizi
menyeberangi membran sel atau di dalam aliran darah. Proses ini dinamakan
fosforilasi dan terjadi pada absorpi di dalam saluran cerna, pelepasan zat gizi
dari aliran darah ke dalam cairan interseluler dan pengalihannyake dalam sel.
Lemak yang tidak larut dalam air, diangkut di dalam darah dalam bentuk
fosfolipida. Fosfolipida adalah ikatan fosfat dengan molekul lemak, sehingga
lemak menjadi lebih larut. Glikogen yang dilepas dari simpanan hati atau otot
berada di dalam darah terikat dengan fosfor.
Pengaturan
keseimbangan asam-basa. Fosfat memegang peranan penting sebagai buffer
untuk mencegah perubahan tingkat keasaman cairan tubuh. Ini terjadi karena
kemampuan fosfor mengikat tambahan ion hidrogen.
î Akibat
Kekurangan Fosfor
Karena fosfor banyak terdapat di dalam
makanan, jarang terjadi kekurangan. Kekurangan fosfor bisa terjadi bila
menggunakan obat antasid untuk menetralkan asam lambung, seperti aluminium
hidroksida untuk jangka lama. Aluminium hidroksida mengikat fosfor, sehingga
tidak dapat diabsropsi. Kekurangan fosfor juga bisa terjadi pada penderita yang
kehilangan banyak cairan melalui urin. Kekurangan fosfor menyebabkan kerusakan
tulang. Gejalanya menderita kekurangan fosfor, karena cepatnya pembentukan
tulang sehingga kebutuhan fosfor tidak bisa dipenuhi oleh ASI.
î Akibat
Kelebihan Fosfor
Kelebihan
fosfor karena makanan jarang terjadi. Bila kadar fosfor darah terlalu tinggi,
ion fosfat akan mengikat kalsium sehingga dapat menimbulkan kejang.
î Magnesium
(Mg)
Kurang lebih 60% dari 20-28
mg magnesium di dalam tubuh terdapat di dalam tulang dan gigi, 26% di dalam
otot dan selebihnya di dalam jaringan lunak lainnya serta cairan tubuh.
Konsenstrasi magnesium rata-rata di dalam plasma adalah sebanyak 0,75-1,0
mmol/l (1,5-2,1 mEq/l). ini dipertahanakan tubuh pada nilai yang konstan pada
orang sehat. Magnesium di dalam tulang lebih banyak merupakan cadangan yang
siap dikeluarkan bila bagian lain dari tubuh membutuhkan.
Fungsi
Magnesium
Magnesium memegang peranan penting dalam
lebih dari tiga ratus jenis sistem enzim di dalam tubuh. Magnesium bertindak di
dalam semua sel jaringan lunak sebagai katalisator dalam reaksi-reaksi biologik
termasuk reaksi-reaksi yang berkaitan dengan metabolisme energi, karbohidrat,
lipida, protein dan asam nukleat serta dalam sintesis, degradasi, dan
stabilitas bahan gen DNA. Sebagian besar reaksi ini terjadi dalam mitokondria
sel.
Di dalam cairan sel ekstraselular magnesium
berperan dalam transmisi saraf, kontraksi otot dan pembekuan darah. Dalam hal
ini peranan magnesium berlawanan dengan kalsium. Kalsium merangsang kontraksi
otot, sedangkan magnesium mengendorkan otot. Kalsium mendorong penggumpalan
darah sedangkan magnesium mencegah. Kalsium menyebabkan ketegangan saraf,
sedangkan magnesium melemaskan saraf.
Magnesium mencegah kerusakan gigi dengan
cara menahan kalsium di dalam email gigi.
Akibat
Kekurangan Magnesium
Kekurangan magnesium jarang terjadi karena
makanan. Kekurangan magnesium bisa terjadi pada kekurangan protein dan energi
serta berbagai komplikasi penyakit-penyakit yang menyebabkan gangguan absorpsi
dan atau penurunan fungsi ginjal, endokrin, terlalu lama mendapat makanan tidak
melalui mulut (intravena). Penyakit yang menyebabkan muntah-muntah, diare
penggunaan duiretika (perangsang pengeluaran urin) juga dapat menyebabkan
kekurangan magnesium. Kekurangan magnesium berat menyebabkan kurang nafsu
makan, gangguan dalam pertumbuhan, mudah tersinggung, kejang/tetanus, gangguan
sistem saraf pusat, halusinasi, dan gagal jantung.
DAFTAR PUSTAKA
Sriwidodo WS. 1996.Cermin
Dunia Kedokteran. Jakarta : PT.Kalbe Farma.
Almatsier, Sunita. 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi.
PT Gramedia Pustaka Utama : Jakarta, 2001.