Minggu, 25 Maret 2012

Mineral Makro dalam Pembentukan Tulang


î Osteoporosis
Osteoporosis, yang berarti “tulang keropos atau tulang yang berlubang,” merupakan kelainan tulang umum yang ditandai oleh penurunan pembentukan osteoblastik matriks disertai dengan peningkatan resorpsi osteokiastik tulang dan sebagai akibatnya, penurunan jumlah total tulang dalam tulang rangka (osteopenia, yang berarti “terlalu sedikit tulang’). Osteoporosis mempermudah timbulnya fraktur traumatik kolumna vertebra, femur atas, radius distal, humerus proksimal, rami pubis dan kosta sehingga biaya sosial dan ekonomi osteoporosis besar seka.
Meskipun penurunan deposisi tulang telah lama dianggap merupakan faktor utama penyebab gangguan keseimbangan yang menimbulkan osteoporosis, namun data baru-baru ini memperlihatkan bahwa peningkatan resorpsi tulang mungkin merupakan faktor yang lebih penting. Percobaan pada tahun-tahun sekarang ini memberi kesan bahwa terdapat beberapa bentuk penatalaksanaan yang efektif untuk penderita osteoporosis.
î Jenis-Jenis Osteoporosis

Terdapat beberapa jenis osteoporosis, yaitu:

1)    Osteoporosis postmenopause (tipe I):
Bentuk yang paling sering ditemukan pada wanita kulit putih dan Asia. Bentuk osteoporosis ini disebabkan oleh percepatan resorpsi tulang yang berlebihan dan lama setelah penurunan sekresi estrogen di masa menopause.
2)    Osteoporosis involutional (tipe II):
Terjadi pada kedua jenis kelamin yang berusia di atas 75 tahun. Tipe ini diakibatkan oleh ketidakseimbangan yang samar dan lama antara kecepatan resorpsi tulang dengan kecepatan pembentukan tulang.
3)    Osteoporosis idiopatik:
Tipe osteoporosis primer jarang yang terjadi pada wanita premenopause dan pada laki-laki yang berusia di bawah 75 tahun. Tipe ini tidak berkaitan dengan penyebab sekunder atau faktor risiko yang mempermudah timbulnya penurunan densitas tulang. Penyebabnya tidak diketahui.
4)    Osteoporosis juvenil:
Bentuk osteoporosis yang terjadi pada anak-anak prepubertas. Bentuk ini jarang dijumpai.

5)    Osteoporosis sekunder:
Penurunan densitas tulang yang cukup berat untuk menyebabkan fraktur atraumatik akibat faktor ekstrinsik seperti kelebihan kortikosteroid, artritis reumatoid, kelainan hati/ginjal kronis, sindrom malabsorbsi, mastositosis sistemik, hiperparatiroidisme, hipertiroidisme, varian status hipogonade, dan lain-lain.
A.    Kalsium Sebagai Mineral Makro

Kalsium merupakan mineral yang paling banyak terdapat di dalam tubuh, yaitu 1,5-2% dari berat badan orang dewasa. Di dalam tubuh manusia terdapat kurang lebih 1 kg kalsium (Granner, 2003).
Kalsium merupakan mineral makro yang terdapat paling banyak di dalam tubuh yaitu 1,5 – 2 % dari berat badan orang dewasa, 99 % berada didalam jaringan keras yaitu tulang dan gigi.
(Almatsier, 2009).
Dari jumlah ini, 99% berada di dalam jaringan keras, yaitu tulang dan gigi terutama dalam bentuk hidroksiapatit {(3Ca3(PO4)2.Ca(OH)2}. Kalsium tulang berada dalam keadaan seimbang dengan kalsium plasma pada konsenterasi kurang lebih 2,25-2,60 mmol/l (9-10,4 mg/100ml). Densitas tulang berbeda menurut umur, meningkat pada bagian pertama kehidupan dan menurun secara berangsur setelah dewasa. Selebihnya kalsium tersebar luas didalam tubuh. Di dalam cairan ekstraselular dan intraselular kalsium memegang peranan penting dalam mengatur fungsi sel, seperti untuk transmisi saraf, kontraksi otot, penggumpalan darah dan menjaga permebilitas membran sel. Kalsium juga mengatur pekerjaan hormon-hormon dan faktor pertumbuhan (Almatsier, 2004).
Mineral makro ini mempunyai peranan penting dalam pembentukan tulang dan gigi serta mencegah penyakit osteoporosis. Kebutuhan terbesar mineral ini pada waktu pertumbuhan, tetapi kebutuhannya masih diteruskan meskipun sudah mencapai usia dewasa. (Winarno, 1997).
Osteoporosis adalah suatu penyakit dimana kondisi tulang menjadi rapuh dan mudah retak atau patah karena kekurangan kalsium. Penyakit ini umumnya lebih banyak diderita kaum wanita karena itu jumlah wanita yang terserang osteoporosis lebih banyak daripada pria, terutama mereka yang memasuki masa menopause atau berusia diatas 40 tahun. (Anonim, 2009).
Angka kecukupan rata-rata sehari untuk kalsium bagi orang Indonesia ditetapkan oleh Widyakarya Pangan dan Gizi LIPI (1998) yaitu bayi 300-400 mg, anak-anak 500 mg, remaja 600-700 mg, dewasa 500-800 mg , ibu hamil dan menyusui > 400 mg (Almatsier, 2009).
Kalsium dapat diperoleh dari susu, kacang-kacangan dan hasil olahannya, telur, ikan yang dimakan dengan tulang, sayuran hijau dan buah. (Almatsier, 2009).
B.    Absoprsi dan Eksresi

Dalam keadaan normal sebanyak 30-50% kalsium yang dikonsumsi diabsorpsi di tubuh. Kemampuan absorpsi lebih tinggi pada masa pertumbuhan, dan menurun pada proses menua. Kemampuan absorpsi pada laki-laki lebih tinggi daripada perempuan pada semua golongan usia (Almatsier, 2004).
Absorpsi kalsium terutama terjadi dibagian atas usus halus yaitu duodenum. Dalam keadaan normal, dari sekitar 1000 mg Ca++ yang rata-rata dikonsumsi perhari, hanya sekitar dua pertiga yang diserap di usus halus dan sisanya keluar melalui feses (Sherwood, 2001).
Kalsium membutuhkan pH 6 agar dapat berada dalam keadaan terlarut. Absorpsi kalsium terutama dilakukan secara aktif dengan menggunakan alat ukur protein-pengikat kalsium. Absorpsi pasif terjadi pada permukaan saluran cerna. Banyak faktor mempengaruhi absorpsi kalsium. Kalsium hanya bisa diabsorpsi bila terdapat dalam bentuk larut-air dan tidak mengendap karena unsur makanan lain, seperti oksalat.
î Faktor-faktor yang Meningkatkan Absorpsi Kalsium

Semakin tinggi kebutuhan dan semakin rendah persediaan kalsium dalam tubuh semakin efesien absorpsi kalsium. Peningkatan kebutuhan terjadi pada pertumbuhan, kehamilan, menyusui, defesiensi kalsium dan tingkat aktivitas fisik yang meningkatkan densitas tulang. Jumlah kalsium yang dikonsumsi mempengaruhi absorpsi kalsium. Penyerapan akan meningkat apabila kalsium yang dikonsumsi menurun (Almatsier, 2004).
Vitamin D dalam bentuk aktif 1,25(OH)D3 merangsang absorpsi kalsium melalui langkah-langkah kompleks. Vitamin D meningkatkan absorpsi pada mukosa usus dengan cara merangsang produksi protein pengikat kalsium. Absorpsi kalsium paling baik terjadi dalam keadaan asam. Asam klorida yang dikeluarkan lambung membantu absorpsi kalsium dengan cara menurunkan pH di bagian atas duodenum. Asam amino tertentu meningkatkan pH salura cerna, dengan demikian membantu absorpsi (Almatsier, 2004).
Aktivitas fisik berpengaruh baik terhadap absorpsi kalsium. Laktosa meningkatkan absorpsi bila tersedia cukup enzim laktase. Sebaliknya, bila terdapat defesiensi laktase, laktosa mencegah absorpsi kalsium. Lemak meningkatkan waktu transit makanan melalui saluran cerna, dengan demikian memberi waktu lebih banyak untuk absorpsi kalsium. Absorpsi kalsium lebih baik bila dikonsumsi bersamaan dengan makanan (Almatsier, 2004).
î Faktor-faktor yang menghambat absorpsi kalsium

Kekurangan vitamin D dalam bentuk aktif menghambat absorpsi kalsium. Asam oksalat yang terdapat dalam bayam, sayuran lain dan kakao membentuk garam kalsium oksalat yang tidak larut, sehingga menghambat absorpsi kalsium. Asam fitat, ikatan yang mengandung fosfor yag terutama terdapat didalam sekam serealia, membentuk kalsium fosfat yang juga tidak dapat larut sehingga tidak dapat diabsorpsi (Almatsier, 2004).
Selain itu, kosumsi tinggi serat dapat menurunkan absorpsi kalsium, diduga karena serat menurunkan waktu transit makanan dalam saluran cerna sehingga mengurangi kesempatan untuk absorpsi (Guthrie&Picciano, 1995; Krummel, 1996).
Rasio konsumsi kalsium fosfor agar dapat dimanfatkan secara optimal dianjurkan adalah 1:1 dalam makanan, konsumsi fosfor yang lebih tinggi dapat mengahambat absorpsi kalsium karena fosfor dalam suasana basa membentuk kalsium fosfat yang tidak larut air (Khomsan, 1996).
Faktor lain yang dapat menghambat absorpsi kalsium adalah ketidakstabilan emosional yang dapat mempengaruh efesiensi absorpsi kalsum, seperti stres, tekanan, dan kecemasan. Kurangnya latihan fisik atau olahraga seperti jarang berjalan atau pada orang yang kurang bergerak karena sakit atau terbaring dalam waktu lama dapat menyebabkan kehilangan kalsium tulang 0,5 % setiap bulan dan mengurangi kemampuan untuk menggantinya (Guthrie&Picciano, 1995).

î Fungsi dan Peranan Kalsium

Kalsium mempunyai peran penting didalam tubuh, yaitu dalam pembentukan tulang dan gigi; dalam pengaturan fungsi sel pada cairan ekstraselular dan intraselular, seperti untuk transmisi saraf, kontraksi otot, penggumpalan darah, dan menjaga permebilitas membran sel. Selain itu, kalsium juga mengatur pekerjaan hormon-hormon dan faktor pertumbuhan (FKM UI, 2007).
a.    Pembentukan tulang. Yaitu:
Proses pembentukan tulang dimulai pada awal perkembangan janin, dengan membentuk matriks yang kuat, tetapi masih lunak dan lentur yang merupakan cikal bakal tulang tubuh. Matriks yag merupakan sepertiga bagian dari tulang terdiri atas serabut yang terbuat dari kolagen yang  diselubungi oleh bahan gelatin. Segera setelah lahir matriks mulai menjadi kuat dan mengeras melalui proses kalsifikasi, yaitu terbentuknya kristal mineral yang mengandung senyawa kalsium. Kristal ini terdiri atas kalsium fosfat atau kombiasi kalsium fosfat dan kalsium hidroksida dinamakan hidroksiapatit {(3Ca3(PO4)2.Ca(OH)2}. Karena kalsium merupakan mieral yang utama dalam ikatan ini, keduanya harus berada dalam jumlah yang cukup di dalam cairan yang mengelilingi matriks tulang. Batang tulang yang merupakan bagian keras matriks mengandung kalsium, fosfat, magnesium, seng, natrium bikarbonat, dan fluor, selain hidroksipatit (Almatsier, 2004).
Selama kehidupan, tulang selalu mengalami perubahan baik dalam bentuk maupun kepadatan, sesuai dengan usia dan perubahan berat badan. Menurut Krummel (1996), faktor yang mempengaruhi kalsifikasi/penulangan adalah genetik (untuk menentukan massa tulang); hormon seks dan aktivitas fisik (untuk mempengaruhi metabolisme tulang); dan berat badan berbanding terbalik dengan risiko patah tulang.
b.    Pembentukan gigi
Mineral yang membenuk dentin dan email yang merupakan bagian tengah dan luar dari gigi adalah minerla yang sama dengan pembentuk tulang, yaitu hidroksiapatit. Namun, kristal dalam gigi lebih padat dan kadar airnya lebih rendah. Protein dalam email gigi adalah keratin, sedangkan dalam dentin adalah kolagen. Pertukaran anatra kalsium gigi dan kalsium tubuh berlangsung dengan lambat dan terbatas pada kalsium yang terdapat dalam lapisan dentin. Sedikit pertukaran mungkin juga terjadi diantara saliva dan email gigi. Kekuranag kalsium selama masa pembentukan gigi dapat menyebabkan meningkatnya kerentanan terhadap kerusakan gigi (Almatsier, 2004).
c.    Pertumbuhan
Kalsium secara nyata diperlukan untuk pertumbuhan kerena bagian penting dalam pembentukan tulang dan gigi, juga dibutuhkan dalam jumlah yang lebih kecil untuk mendukung fungsi sel dalam tubuh. Penelitian di jepang menyebutkan bahwa orang yang diet rendah kalsium lebih pendek dibandingkan dengan diet kalsium yang adekuat. Dalam masa pertumbuhan ukuran tulang, kandungan kalsum dan kebutuhan kalsium meningkat. Setelah perumbuhan terhenti, kemungkinan fase dimana penambahan jumlah tulang dan kalsium (peak bone mass) bersama akan tetap bertambah sampai usia sekitar 30 tahun. Setelah peak bone mass tercapai, jumlah tulang akan menurun, yang akan menyebabkan ketidakseimbangan antara reabsorpsi dan pembentukan tulang. Konsumsi kalsium adalah salah satu mekanisme yang dapat membantu pertumbuhan tulang dan mencegah kehilangan tulang (bone loss), karena tubuh biasanya mencapai peak bone mass antara umur 25-30-an, adalah waktu yang ideal untuk melakukan pencegahan selama tahun-tahun diperguruan tinggi (Tucker, Snelling, dkk, 2002).
d.    Pembekuan darah
Bila terjadi luka, ion kalsium dalam darah merangsang pembebasan fosfolipida tromboplastin dari platelet darah yang terluka. Tromboplastin ini mengatalisis perubahan protrombin bagian darah normal, menjadi trombin kemudian membantu perubahan fibrinogen, bagian lan dari darah, menjadi fibrin yang merupakan gumpalan darah (Sherwood, 2001).
e.    Katalisator reaksi-reaksi biologik
Kalsium berfungsi sebagai katalisator berbagai reaksi biologik, seperti absorpsi vitamin B12, tindakan enzim pemecah lemak, lipase pankreas, ekskresi insulin oleh pankreas, pembentukan dan pemecahan asetilkolin. Kalsium yang diperlukan untuk mengkatalisis reaksi-reaksi ini diambil dari pesediaan kalsium dalam tubuh (Almatsier, 2004).
f.      Kontraksi otot
Pada waktu otot berkontraksi kalsium berperan dalam interaksi protein di dalam otot, yaitu aktin dan miosin. Bila darah kalsium kurang dari normal, otot tidak bisa mengendur sesudah kontraksi. Tubuh akan kaku dan dapat menimbulkan kejang. Beberapa fungsi kalsium lain adalah meningkatkan fungsi transpor membra sel, kemungkinan dengan bertindak sebagai stabilisator membran, dan transmisi ion melalui membran organel sel (Almatsier, 2004).
g.    Pengaruh hormon-hormon lain terhadap kerangka tubuh
Kerangka tubuh dipengaruhi oleh hormon pertumbuhan, hormon seks, tiroksin, dan kortikosteroid. Kekurangan estrogen (hormon seks pada perempuan) menyebabkan kehilangan bahan tulang atau osteoporosis. Tampaknya hal ini menjelaskan mengapa wanita menopause rentan terhadap osteoporosis, hal in terjadi karena penurunan estrogen secara drastis pada masa tersebut. Kebanyakan hormon tiroksin juga meyebabkan percepatan penggantian kalsium dengan resorpsi yang lebih cepat yang pada akhirnya menyebabkan kalsium darah meningkat dan terjadi osteoporosis (Almatsier, 2004).

î Kalsium dan Tulang
Kalsium tulang tersebar diantara pool (cadangan) yang relatif tidak berubah/stabil dan tidak dapat digunakan untuk pengaturan jangka pendek keseimbangan kalsium, dan pool yang cepat dapat berubah yang terlibat dalam kegiatan metabolisme kalsium (kurang lebih 1% kalsium tulang). Komponen yang dapat berubah ini dapat dianggap sebagai cadangan yang menumpuk bila makanan mengnadung cukup kalsium. Cadangan kalsium ini terutama disimpan pada bagian ujung tulang panjang dalam bentuk kristal yang dinamakan trabekula dan dapat dimobilisasi untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat pada masa pertumbuhan, kehamilan, dan menyusui. Kekurangan konsumsi kalsium untuk jangka panjang menyebabkan struktur tulang yang tidak sempurna (WHO, 2003).
Heaney (2000) dalam Journal of the American College of Nutrition mengatakan asupan kalsium berkaitan dengan status tulang. Selama 25 tahun ada paling sedikit 139 laporan terpublikasi di Inggris yang memaparkan hubungan antara asupan kalsium dan status tulang (massa tulang, keseimbangan kalsium, kehilangan tulang atau fraktur). Dari 86 studi observasional, 69 pada dewasa, 17 anak-anak, ditemukan 64 hasil studi mengenai hubungan positif bermakna antara asupan kalsium dan massa tulang, kehilangan tulang atau fraktur.
Tulang senantiasa berada dalam keadaan dibentuk dan direabsorpsi. Aspek mana yang domina bergantung pada umur dan keadaan faal tubuh. Pada proses menua proses reabsorpsi dominan sehingga tulang secara berangsur menyusut dan menjadi rapuh. Penyusutan tulang pada umumnya terjadi setelah usia 50 tahun, baik pada laki-laki maupun perempuan tetapi pada perempuan dengan kecepatan lebih tinggi. Seperti telah dijelaskan, kalsium didalam tulang terdapat dalam bentuk hidroksiapatit. Disamping itu terdapat ion-ion lain termasuk fluor, magnesium, seng, dan natrium. Melalui matriks dan di antara struktur kristal terdapat pembuluh darah dan limfe, saraf dan sumsum tulang. Melalui pembuluh darah ini ion-ion mineral berdifusi ke dalam cairan ekstraselular, mengelilingi kristal dan memungkinkan pengendapan mineral baru atau penyerapan kembali mineral tulang. Karena banyak kalsium yang hilang didalam tulang pada proses resorpsi, konsumsi kalsium yang adekuat dianjurkan sebelum penuaan terjadi (Almatsier, 2004).
FDA (1998) dalam Annual Edition Nutrition 2000/2001 (2000) menyatakan konsumsi kalsium yang adekuat selama hidup dapat membantu mempertahankan kesehatan tulang melalui peningkatan sebanyak mungkin secara genetik jumlah tulang yang dibentuk pada masa remaja dan tahap awal dewasa serta dapat membantu memperlambat kecepatan kehilangan tulang yang terjadi pada kehidupan selanjutnya.  Kalsium dalam tulang merupakan sumber kalsium darah. Walaupun makanan kurang mengandung kalsium, konsentrasinya dalam darah akan tetap normal (Almatsier, 2004).

î Angka Kecukupan Kalsium yang Dianjurkan
RDA adalah standar di Amerika yang berisi kebutuhan rata-rata zat gizi per hari yang dianjurkan sehingga suatu masyarakat dapat hidup sehat. Di Indonesia RDA dikenal dengan Angka Kecukupan Gizi yang ditetapkan melalui Kongres Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi (WKNPG) (FKM UI, 2007).
            AKG atau RDA adalah banyaknya masing-masing zat gizi esensial yang harus dipenuhi dari makanan mencakup hampir semua orang sehat untuk mencegah defisiensi zat gizi. AKG dipengaruhi oleh umur, jenis kelamin, aktivitas, berat badan, tinggi badan, genetika, dan keadaan fisiologis, seperti hamil atau menyusui (Fikawati, R., Syafiq, 2007).
Untuk pertama kalinya sejak RDA dipublikaskan tahun 1989, pemerintah federal di Amerika akhirnya meningkatkan rekomendasi asupan kalsium harian (NAS, 1997). Hal ini berdasarkan temuan riset terbaru yang dilakukan The Food and Nutrition Board di National Academy of Sciences yang menyatakan bahwa peningkatan rekomendasi asupan kalsium dapat mencegah perburukan tulang. Rekomendasi terbaru tersebut dinamakan Dietary Reference Intakes (DRI) yang merupakan perluasan dari cakupan dan aplikasi RDA (Soliah, 2000). Di Indonesia WKNPG VIII telah diselenggarakan pada tahun 2003 dan hasilnya (AKG) telah dipublikasikan tahun 2004. Berikut ini akan disajikan tabel yang memuat asupan kalsium yang direkomendasikan antara masyarakat di Indonesia dan Amerika.



Tabel.1 Dietary Reference Intakes for Calcium
LIFE STAGE GROUP
CALCIUM MG/DAY ADEQUATE INTAKE
Infants
• 0-6 bulan
• 6-12 bulan
Infants
• 210
• 270
Anak-anak
• 1-3 tahun
• 4-8 tahun
Anak-anak
• 5000
• 800
Laki-laki/Perempuan
9-18 tahun
• 19-50 tahun
• >51 tahun
Laki-laki/Perempuan
1300
• 1000
• 1200




Tabel 2. Angka Kecukupan Gizi Kalsium 2004 bagi orang Indonesia
No
Kelompok Umur
Kalsium (mg/hari)
1.
Anak
• 0-6 bulan
• 7-12 bulan
• 1-3 tahun
• 4-6 tahun
• 7-9 tahun
Anak
• 200
• 400
• 500
• 500
• 600
2.
Laki-laki
• 10-18 tahun
• 19-29 tahun
• 30-49 tahun
• 50-64 tahun
• >60 tahun
Laki-laki
• 1000
• 800
• 800
• 800
• 800
3.
Wanita
• 10-18 tahun
19-29 tahun
• 30-49 tahun
• 50-64 tahun
• >60 tahun

Wanita
• 1000
800
• 800
• 800
• 800
4.
Wanita hamil (tambahan)
• Trimester 1
• Trimester 2
• Trimester 3
Wanita hamil (tambahan)
• + 150
• + 150
• + 150
5.
Wanita menyusui (tambahan)
• 6 bulan pertama
• 6 bulan kedua
Wanita menyusui (tambahan)
• + 150
• + 150



         Jika mengacu pada WKNPG VIII, AKG indonesia untuk anjuran kalsium masih rendah sekali dibandingkan RDA yang dipakai di Amerika. Bahkan di AS, telah dilakukan kenaikan AKG kalsium khususnya dengan memperhatikan kaitan antara konsumsi kalsium saat remaja dengan risiko fraktur osteoporotik di kemudian hari. Penyusunan AKG kalsium di indonesia seharusnya mempertimbangkan kebutuhan kalsium untuk hari tua, yaitu pengurangan risiko fraktur tulang akibat osteoporosis. (Heaney, 2003).
î Sumber Kalsium
         Diet harus didasarkan pada berbagai macam makanan, baik unuk memenuhi kebutuhan yang sudah diketahui maupun untuk menyediakan nutrien lain yang kebutuhannya pada manusia masih belum bisa ditentukan secara tepat. Sumber utama kalsium dalah susu dan produk olahannya, seperti keju, yoghurt, kefir, es krim, serta ikan terutama ikan duri halus. Enam studi Randomized Controlled Trial pada orang dewasa dan anak-anak yang menggunakan produk olahan susu sebagai sumber utama kalsium, seluruhnya menunjukan efek positif bermakna yang memiliki paling sedikit efek yang sama kuat dengan suplemen kalsium. Hal ini membuktikan bahwa susu dan produk olahannya adalah sumber nutrient yang baik yang dibutuhkan untuk perkembangan dan mempertahankan tulang (Heaney, 2000).       Serealia, kacang-kacangan dan hasil kacang-kacangan, tahu dan tempe, dan sayuran hijau merupakan sumber kalsium yang baik juga, tetapi bahan makanan ini banyak mengandung zat yang menghambat penyerapa kalsium seperti serat, fitat, dan oksalat. Susu nonfat merupakan sumber terbaik kalsium, karena ketersediaan biologiknya yang tinggi. Kebutuhan kalsium akan terpenuhi bila kita makan makanan yang seimbang setiap hari (Almatsier, 2004).
î Akibat Kekurangan Kalsium
         Kekurangan kalsium pada masa pertumbuhan dapat menyebabkan ganggguan pertumbuhan. Tulang kurang kuat, mudah bengkok dan rapuh. Semua orang dewasa, terutama setelah usia 50 tahun, kehilangan kalsium dari tulangnnya. Tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Hal ini dinamakan osteoporosis yang dapat dipercepat oleh keadaan stress sehari-hari. Osteoporosis lebih banyak terjadi pada wanita daripada laki-laki dan lebih banyak pada orang kulit putih daripada kulit berwarna. Disamping itu osteoporosis lebih banyak terjadi pada perokok dan peminum alcohol (Almatsier, 2004).
       FDA (1998) menegaskan bahwa asupan kalsium yang rendah adalah salah satu faktor risiko terjadinya osteoporosis, suatu kondisi dari rendahnya massa tulang atau kepadatannya. Osteoporosis terjadi pada 25% wanita pascamenopause, nampaknya defisiensi estrogen pada masa itu ikut berperan sehingga insidensnya pada wanita lebih tinggi (Sherwood, 2001; Hillegas, 2005). Karena terapi osteoporosis sulit dan sering kurang memuaskan, pencegahan sejauh ini merupakan cara terbaik untuk menangani masalah kesehatan ini. ). Pencegahan osteoporosis dapat dimulai ketika tulang seseorang dibentuk. Pembentukan tulang yang kuat sebelum menopause melalui makanan yang kaya kalsium dan olahraga yang adekuat tampaknya merupakan tindakan yang terbaik. Adanya cadangan tulang pada usia pertengahan dapat memperlambat munculnya manifestasi klinis osteoporosis pada usia selanjutnya. Akivitas fisik yang berlanjut seumur hidup tampaknya dapat menunda atau mencegah pengeroposan tulang, bahkan pada orang berusia lanjut (Sherwood, 2001). Kekurangan kalsium dapat menyebabkan osteomalasia, yang dinamakan juga riketsia pada orang dewasa dan biasanya terjadi karena kekurangan vitamin D dan ketidakseimbangan konsumsi kalsium terhadap fosfor. Mineralisasi matriks tulang terganggu, sehingga kandungan kalsium di dalam tulang menurun (Almatsier, 2004).
Akibat Kelebihan Kalsium
         Konsumsi kalsium hendaknya tidak melebihi 2500 mg sehari. Kelebihan kalsium dapat menimbulkan batu ginjal atau gangguan ginjal. Disamping itu, dapat menyebabkan konstipasi (susah buang air besar). Kelebihan kalsium bisa terjadi bila menggunakan suplemen kalsium berupa tablet atau bentuk lain (Almatsier, 2004).
î Fosfor mempunyai berbagai fungsi dalam tubuh.
a.    Klasifikasi tulang dan gigi.
Klasifikasi tulang dan gigi diawali dengan pengendapan fosfor pada matriks tulang. Kekurangan fosfor menyebabkan peningkatan enzim fosfatase yang diperlukan untuk melepas fosfor dari jaringan tubuh ke dalam darah agar diperoleh perbandingan kalsium terhadap fosfor yang sesuai untuk pertumbuhan tulang.
b.    Mengatur pengalihan energi.
Melalui proses fosforilasi fosfor mengaktifkan berbagai enzim dan vitamin B dalam pengalihan energi pada metabolisme karbohidrat, lemak dan protein. Bila stu gugus fosfor ditambahkan pada ADP (Adenosin Difosfat) maka terbentuk ATP (Adenosin Trifosfat) yang menyimpan energi dalam ikatannya. Bila energi diperlukan, ATP diubah kembali menjadi ADP. Energi yang mengikat fosfor pada ADP dilepas untuk keperluan berbagi reaksi di dalam tubuh.
     Absorpi dan transportasi zat gizi.
Dalam bentuk fosfat, fosfor berperan sebagai alat angkut untuk membawa zat-zat gizi menyeberangi membran sel atau di dalam aliran darah. Proses ini dinamakan fosforilasi dan terjadi pada absorpi di dalam saluran cerna, pelepasan zat gizi dari aliran darah ke dalam cairan interseluler dan pengalihannyake dalam sel. Lemak yang tidak larut dalam air, diangkut di dalam darah dalam bentuk fosfolipida. Fosfolipida adalah ikatan fosfat dengan molekul lemak, sehingga lemak menjadi lebih larut. Glikogen yang dilepas dari simpanan hati atau otot berada di dalam darah terikat dengan fosfor.
          Pengaturan keseimbangan asam-basa. Fosfat memegang peranan penting sebagai buffer untuk mencegah perubahan tingkat keasaman cairan tubuh. Ini terjadi karena kemampuan fosfor mengikat tambahan ion hidrogen.

î Akibat Kekurangan Fosfor
Karena fosfor banyak terdapat di dalam makanan, jarang terjadi kekurangan. Kekurangan fosfor bisa terjadi bila menggunakan obat antasid untuk menetralkan asam lambung, seperti aluminium hidroksida untuk jangka lama. Aluminium hidroksida mengikat fosfor, sehingga tidak dapat diabsropsi. Kekurangan fosfor juga bisa terjadi pada penderita yang kehilangan banyak cairan melalui urin. Kekurangan fosfor menyebabkan kerusakan tulang. Gejalanya menderita kekurangan fosfor, karena cepatnya pembentukan tulang sehingga kebutuhan fosfor tidak bisa dipenuhi oleh ASI.

î Akibat Kelebihan Fosfor
Kelebihan fosfor karena makanan jarang terjadi. Bila kadar fosfor darah terlalu tinggi, ion fosfat akan mengikat kalsium sehingga dapat menimbulkan kejang.

î Magnesium (Mg)
     Kurang lebih 60% dari 20-28 mg magnesium di dalam tubuh terdapat di dalam tulang dan gigi, 26% di dalam otot dan selebihnya di dalam jaringan lunak lainnya serta cairan tubuh. Konsenstrasi magnesium rata-rata di dalam plasma adalah sebanyak 0,75-1,0 mmol/l (1,5-2,1 mEq/l). ini dipertahanakan tubuh pada nilai yang konstan pada orang sehat. Magnesium di dalam tulang lebih banyak merupakan cadangan yang siap dikeluarkan bila bagian lain dari tubuh membutuhkan.

Fungsi Magnesium 
Magnesium memegang peranan penting dalam lebih dari tiga ratus jenis sistem enzim di dalam tubuh. Magnesium bertindak di dalam semua sel jaringan lunak sebagai katalisator dalam reaksi-reaksi biologik termasuk reaksi-reaksi yang berkaitan dengan metabolisme energi, karbohidrat, lipida, protein dan asam nukleat serta dalam sintesis, degradasi, dan stabilitas bahan gen DNA. Sebagian besar reaksi ini terjadi dalam mitokondria sel.
     Di dalam cairan sel ekstraselular magnesium berperan dalam transmisi saraf, kontraksi otot dan pembekuan darah. Dalam hal ini peranan magnesium berlawanan dengan kalsium. Kalsium merangsang kontraksi otot, sedangkan magnesium mengendorkan otot. Kalsium mendorong penggumpalan darah sedangkan magnesium mencegah. Kalsium menyebabkan ketegangan saraf, sedangkan magnesium melemaskan saraf.
     Magnesium mencegah kerusakan gigi dengan cara menahan kalsium di dalam email gigi.

    Akibat Kekurangan Magnesium
Kekurangan magnesium jarang terjadi karena makanan. Kekurangan magnesium bisa terjadi pada kekurangan protein dan energi serta berbagai komplikasi penyakit-penyakit yang menyebabkan gangguan absorpsi dan atau penurunan fungsi ginjal, endokrin, terlalu lama mendapat makanan tidak melalui mulut (intravena). Penyakit yang menyebabkan muntah-muntah, diare penggunaan duiretika (perangsang pengeluaran urin) juga dapat menyebabkan kekurangan magnesium. Kekurangan magnesium berat menyebabkan kurang nafsu makan, gangguan dalam pertumbuhan, mudah tersinggung, kejang/tetanus, gangguan sistem saraf pusat, halusinasi, dan gagal jantung.


 


DAFTAR PUSTAKA

Sriwidodo WS. 1996.Cermin Dunia Kedokteran. Jakarta : PT.Kalbe Farma.
Almatsier, Sunita. 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. PT Gramedia Pustaka Utama : Jakarta, 2001.


Jumat, 23 Maret 2012

“PENYIMPANAN PANGAN SEGAR” ( CUMI )






 BAB I
PENDAHULUAN
a.Latar Belakang
                Pada umumnya cumi-cumi biasa berukuran sekitar 5,1 cm, namun ada jenis cumi-cumi Architeuthis princeps atau cumi-cumi raksasa berukuran hingga lebih dari 15 m. Cumi-cumi raksasa ini sering ditemukan terdampar di sepanjang pantai Newfoundland. Sedangkan cumi-cumi yang biasa dikonsumsi oleh manusia adalah jenis Loligo Pealei"" dan tersebar di perairan Laut Tengah, Asia Timur, serta sepanjang pantai timur Amerika Utara.] Ada yang hidup di dekat dengan permukaan air, ada pula yang hidup di tempat yang dalam sekali atau palung laut.
Ada pula jenis cumi-cumi terbang, Ommastrephes bartrami, yang dapat dibandingkan dengan ikan terbang. Hewan ini sering melompat keluar dari air, terutama dalam cuaca buruk, dan kadang - kadang terdampar di atas dek kapal nelayan.Cumi-cumi jenis kecil tidak mengganggu manusia, namun jenis yang besar dapat menjadi ancaman yang berbahaya untuk manusia ketika menyelam.
Cumi-cumi juga mengandung TMAO (Trimetil Amin Oksida) yang cukup tinggi. TMAO yang tinggi ini memberikan rasa yang khas terhadap daging cumi-cumi. Daging cumi-cumi juga banyak mengandung monoamino nitrogen yang menyebabkan cumi-cumi mempunyai rasa manis. Kandungan sulfur yang cukup tinggi pada cumi-cumi juga menyebabkan cumi-cumi berbau amis ketika mengalami perlakuan pemasakan seperti direbus.
                                                                                                                                                                    1
Cairan tinta cumi-cumi bersifat alkaloid, sehingga tidak disukai oleh predator, terutama ikan. Cairan berwarna gelap ini mengandung butir-butir melanin atau pigmen hitam. Melanin alami adalah melanoprotein yang mengandung 10-15 persen protein. Melanin ini mengikat protein melalui asam amino yang mengandung sulfur, yaitu sistein.
Mineral penting pada cumi-cumi adalah natrium, kalium, fosfor, kalsium, magnesium, dan selenium. Fosfor dan kalsium berguna untuk pertumbuhan kerangka tulang, sehingga penting untuk pertumbuhan anak-anak dan mencegah osteoporosis di masa tua. Selain kaya akan protein, cumi-cumi juga merupakan sumber vitamin yang baik, seperti vitamin B1 (tiamin), B2 (riboflavin), B12, niasin, asam folat, serta vitamin larut lemak (A, D, E, K).
Asam amino esensial yang dominan adalah leusin, lisin, dan fenilalanin. Sementara kadar asam amino nonesensial yang dominan adalah asam glutamat dan asam aspartat. Kedua asam amino tersebut berkontribusi besar terhadap timbulnya rasa sedap dan gurih. Itu sebabnya, secara alami cumi telah memiliki cita-rasa gurih, sehingga dalam pengolahannya tak perlu ditambahkan penyedap (seperti monosodium glutamat = MSG).

                                                                                                                                                                             
                                                                                                                                                                               
b.Tujuan Praktek
      Tujuan Umum :
& Mampu mengetahui penyimpanan pangan segar yang baik.
            Tujuan Khusus :
& Dapat mengetahui suhu yang baik untuk penyimpanan pangan segar.
& Dapat mengetahui kesegaran untuk penyimpanan pangan segar.
& Dapat mengetahui waktu yang baik untuk penyimpanan pangan segar.


                                                                                                                                                                          

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
a.       Pengertian Cumi.
Cumi adalah           : Cumi-cumi adalah kelompok hewan cephalopoda besar atau jenis moluska yang hidup di laut. Nama itu Cephalopoda dalam bahasa Yunani berarti "kaki kepala", hal ini karena kakinya yang terpisah menjadi sejumlah tangan yang melingkari kepala. Seperti semua cephalopoda, cumi-cumi dipisahkan dengan memiliki kepala yang berbeda. Akson besar cumi-cumi ini memiliki diameter 1 mm. Cumi-cumi banyak digunakan sebagai makanan.
 Jenis-jenis Cumi :
*      Gurita.
*      Sotong.

b.      Kandungan Gizi Cumi per 100gr
*      Energi (kal)           : 260 kal.
*      Protein                   : 17,9 gr.
*      Lemak                   : 7,5 gr.

 


BAB III
METODE PRAKTIKUM
a.       Alat:
*      Pisau
*      Piring.
*      Plastik.
b.      Bahan:
*      Cumi.
c.       Cara Kerja:
*       Lakukan pengamatan mutu ( kesegaran objektif dan uji H2S)
*      Masing-masing bahan di bagi menjadi 4 bagian
·         Simpan pada suhu 0 yaitu dengan mengunakanes batu (dikemas dan tidak di kemas)
·         Simpan pada suhu ruang (dikemas dan tidak di kemas)
·         Simpan pada suhu rendah (dikemas dan tidak dikemas)
*     Amati setiap hari terhadap perubahan dan tanda-tanda kerusakan yang terjadi selama penyimpanan
*     Sebutkan dan uraikan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan atau kerusakan selama penyimpan



                                                                                                                                                
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
a.       Hasil.
Keterangan :
v  Cumi I       : Di Kemas ( Di Letakkan pada Lemari Es )
v  Cumi II      : Di Kemas ( Di Letakkan pada Suhu Ruang )
v  Cumi III     : Tidak Di Kemas ( Di Letakkan Pada Suhu Ruang )
v  Cumi IV     : Tidak Di Kemas ( Di Letakkan pada Lemari Es )

ü  Aroma                                    


BAHAN

PENGAMATAN
HARI I
HARI III
HARI VI
Cumi I
Segar
Segar
Tidak Segar
Cumi II
Segar
Busuk
-
Cumi III
Segar
Busuk
-
Cumi IV
Segar
Segar
Tidak Segar

ü  Berat


BAHAN

PENGAMATAN
HARI I
HARI III
HARI VI
Cumi I
46,17 gr
48,2 gr
50 gr
Cumi II
39,65 gr
10 gr
-
Cumi III
39,91 gr
-
-
Cumi IV
39,80 gr
27 gr
50 gr
                                                                                                                                    6
ü  Tekstur


BAHAN

PENGAMATAN
HARI I
HARI III
HARI VI
Cumi I
Keras
Keras
Keras
Cumi II
Keras
Lunak
-
Cumi III
Keras
Kering
-
Cumi IV
Keras
Keras
Keras

ü  Bentuk


BAHAN

PENGAMATAN
HARI I
HARI III
HARI VI
Cumi I
Utuh
Utuh
Utuh
Cumi II
Utuh
Utuh
-
Cumi III
Utuh
Hancur
-
Cumi IV
Utuh
Utuh
Utuh

ü  Warna


BAHAN

PENGAMATAN
HARI I
HARI III
HARI VI
Cumi I
Ungu, Putih bintik Hitam
Ungu, Putih bintik Hitam
Ungu, Putih bintik Hitam
Cumi II
Ungu, Putih bintik Hitam
Ungu, bintik Hitam
-
Cumi III
Ungu, Putih bintik Hitam
Coklat Kehitaman
-
Cumi IV
Ungu, Putih bintik Hitam
Ungu, Putih bintik Hitam
Ungu, Putih bintik Hitam
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                7
b.Pembahasan
v  Cumi Yang di Simpan pada Suhu Ruang.
Cumi yang disimpan pada suhu runag hanya dapat disimpan dalam jangka waktu minimal 5 jam. Karena, di mana ruangan yang memiliki ventilasi yaitu tempat masuknya udara dan juga tidak terbebas dari benda-benda asing serta hewan-hewan yang berterbangan seperti : nyamuk, kecoa, dll mudah masuk melalui ventilasi yang tidak diberi penutup ataupun celah pada ventilasi Sehingga cumi tersebut mudah di hinggapi oleh hewan tersebut. Dan yang kita ketahui cumi-cumi memiliki aroma yang khas, maka waktu penyimpanannya yang baik pada suhu ruang hanya pada jangka waktu 5 jam karena akan mudah busuk dan aromanya menjadi tidak khas seperti cumi segar pada umumnya.
a.       Cumi Yang  Tidak di Kemas dan di Simpan pada Suhu Ruang.
Cumi yang tidak dikemas dan disimpan pada suhu ruang yaitu : 27 - 30. Tidak akan dapat bertahan lama hingga waktu penyimpanan pada hari ke 3 maupun hari-hari berikutnya. Karena pada suhu ruang mudah terkontaminasi dengan benda asing dan hewan-hewan yang dapat masuk melalui ventilasi yang tidak memiliki celah-celah kecil. Dan pada hari ke 3, cumi tersebut sudah membusuk dan mengering, dan baunya sudah tidak khas seperti bau cumi segar. sehingga penyimpanan dengan tidak dikemas dan pada suhu ruang bukanlah media penyimpanan yang baik untuk bahan pangan segar seperti cumi.

                                                                                                                 
b.      Cumi Yang di Kemas dan di Simpan pada Suhu Ruang.
            Cumi yang dikemas dan disimpan pada suhu ruang yaitu: 27-30. Akan mudah busuk dan waktu penyimpanan tidak dapat bertahan lama hingga beberapa jam maupun hari. Karena cumi memiliki aroma yang khas dan ketika masih segar, lalu dikemas dan disimpan pada suhu ruang sehingga tinta yang terdapat pada cumi akan keluar dan cairan-cairan cumi yang lainnya sehingga menimbulkan bau yang busuk. Maka dengan cara dikemas bukan termasuk media penyimpanan pangan segar yang baik.

v  Cumi Yang di Simpan Pada Lemari Es.
Cumi yang disimpan pada lemari es, dapat bertahan sampai penyimpanan pada hari ke 3. Karena pada lemari es suhunya lebih dingin dan baik untuk tempat penyimpanan cumi dan terhindar dari berbagai hewan. Tetapi pada hari ke 6 cumi sudah tidak segar lagi, karena disimpan pada lemari es sehingga kadar airnya meningkat dan kandungan gizi yang terdapat pada cumi tersebut akan menyusut atau berkurang dan tidak baik juga untuk dikonsumsi.
a.       Cumi yang Tidak di Kemas dan di Simpan pada Lemari Es.
Cumi yang disimpan pada Lemari Es dan dengan cara tidak dikemas, tidak mudah busuk sampai pada waktu penyimpanan hari ke 6. Tetapi kadar air akan meningkat dan sudah membeku sehingga kandungan gizi dalam cumi tersebut dapat berkurang, dan aromanya sudah tidak segar seperti pada penyimpanan dengan jangka waktu sampai pada hari ke 3.
                                                                                                                                                                               
b.      Cumi yang di Kemas dan di Simpan pada Lemari Es.
Cumi yang disimpan pada Lemari Es dengan cara di kemas. Sama seperti halnya dengan cumi yang tidak dikemas. Tetapi cumi yang dikemas lebih baik karena kadar airnya tidak sebanyak dengan cumi yang tidak dikemas, sehingga kandungan gizinya tidak banyak yang menyusut atau berkurang.

                                                                                                                                           

BAB V
PENUTUP
a.       Kesimpulan
Dari hasil pengamatan tersebut, dapat disimpulkan bahwa penyimpanan cumi yang baik adalah dengan cara tidak dikemas dan di simpan pada lemari es, serta cumi tersebut hanya dapat disimpan dengan jangka waktu yang baik adalah 3 hari. Karena apabila suda melewati hari ke 3, kandungan gizi yang terdapat pada cumi akan menyusut dan sudah tidak baik untuk dikonsumsi.
b.      Saran
Cumi sebaiknya saat penyimpanan jangan di kemas agar cumi tidak mudah busuk dan juga tidak disimpan pada suhu ruang.

 
                                                                                                                                   

DAFTAR PUSTAKA
            www.wikipedia.com.